News Update :

Basketball News

Formula 1 News

Fivers
Tampilkan postingan dengan label BENCANA ALAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BENCANA ALAM. Tampilkan semua postingan

Indonesia Percaya Jepang akan Pulih

18 Maret 2011

Bencana alam gempa dan tsunami di Jepang yang terjadi Sabtu (12/3/2011) lalu dapat berimplikasi pada hubungan dagang, seperti ekspor-impor Indonesia dan Jepang, hingga pembiayaan sejumlah proyek bilateral Indonesia-Jepang.

"Kalau Bappenas-kan yang mengkoordinasikan kerja sama pembangunan, misalnya yang kerjasama dan didanai oleh skema JAICA. Nah, sampai sekarang belum ada indikasi akan ada perubahan. Kalau komitmen itu kan sudah dibicarakan 5 tahun, jadi sementara ini masih tetap," ujar Menteri PPN/Bappenas Armida Alisjahbana usai menghadiri acara penyerahan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi, di Jakarta, Jumat (18/3/2011) kepada Kompas.com.

Secara terpisah, Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar juga menyebutkan hal yang serupa, bahwa kerusakan akibat gempa di Jepang kali ini masih lebih kecil dibandingkan dengan kejadian serupa pada tahun 1995 di Kobe.
"Itu bisa dikatakan Kobe dan sekitarnya adalah pusat banyak industri manufaktur dan pelabuhan utama.Gempa yang terjadi di Kobe katakanlah menghancurkan bagian perkeonomian Jepang 12 persen dari PDB. Sedangkan minggu lalu, dipekrirakan mengenai area atau cakupan wilayah yang besarannya 6,5 persen dari PDB," jelas Mahendra, di Jakarta, Jumat (18/3/2011).

Namun, ini memang ini masih tsunami, belum dampak kerusakan akibat nuklir. Dan, daerah yang kena adalah basis pertanian, dan olahan bahan baku, seperti besi baja, minyak, dan pulp. Mahendra juga menyebutkan, sekalipun Jepang banyak memiliki utang publik terhadap PDB 204 persen, Indonesia hanya 24 persen, defisit fiskal Jepang 7,5 persen, sedangkan Indonesia 1,5 persen.

"Namun, karena APBN-nya besar sekali, dan juga berdasarkan rekonstruksi waktu Kobe, dan jika rekonstruksi pasca gempa dilakukan dalam periode 5 tahun, maka biayanya diperkirakan tidak lebih dr 0,4 persen dari PDB. Jadi kepercayaan yang menunjukkan Jepang mampu menyerap biaya rekonstruksi tanpa membuat goyah APBN tidak terlalu dikuatirkan," jelasnya yang meyakini negara di Asia Timur ini mampu pulih. 

Sumber disini Shared by Q Ingin Bisa

Reaktor di Jepang Masih Terkendali

Mendengar berita bahwa reaktor nuklir Fukushima di Jepang meledak yang langsung terbayang di benak sebagian orang mungkin ledakan bom atom Nagasaki dan Hiroshima atau insiden Chernobyl. Padahal, apa yang terjadi sekarang jauh berbeda.

Banyak orang yang merasa takut dengan informasi ledakan di Fukushima karena takut akan konsekuensi radiasi yang bisa muncul jika material radioaktif keluar dari reaktor nuklir tersebut. Kewaspadaan akan risiko tersebut memang telah diimbau Pemerintah Jepang, namun masyarakat tetap diminta tenang dan tidak panik.
Menurut pakar teknik nuklir dari Badan tenaga Nuklir Nasional Dr Ferhat Aziz M.Sc., kebocoran zat radioaktif memang terjadi di Fukushima, namun sejauh ini masih dalam batas terkendali. Ledakan yang terjadi pun, menurutnya bukan malah memperburuk kondisi reaktor nuklir, melainkan mememperkecil risiko.
Jadi apa yang sebenarnya terjadi di reaktor nuklir tersebut? "Ledakan sebenarnya terjadi pada secondary containment, bukan pada reaktornya," uangkap Dr Ferhat Aziz dalam perbincangan dengan Kompas.com, Rabu (16/3/2011).
Ia mengatakan, reaktor nuklir tersebut memiliki pelindung yang berlapis-lapis. Terdapat bagian-bagian seperti kelongsong bahan bakar, bejana reaktor, pengungkung primer, dan pengungkung sekunder.
Kelongsong berfungsi sebagai wadah bahan bakar. Bejana bahan bakar terbuat dari baja setebal 15-20 cm. Pengungkung primer terbuat dari baja setebal 7 cm, dan pengungkung sekunder berwujud gedung berbahan beton setebal 1-2 meter.

Nah, ledakan terjadi pada secondary containment di bagian atas bangunan reaktor tersebut. Menurutnya, ledakan berupa ledakan hidrogen, seperti ledakan bahan bakar biasa, bukan ledakan bahan bakar nuklir.
Ia menjelaskan, ledakan sendiri merupakan konsekuensi dari proses venting (pelepasan) yang dilakukan untuk mengurangi tekanan pada reaktor. Proses venting memang menyebabkan material radioaktif keluar bersama uap air dan hidrogen, namun masih pada jumlah yang bisa dikendalikan.

Venting harus dilakukan karena tingginya suhu di pusat reaktor masih harus diturunkan jika tidak ingin meleleh. Meski telah dimatikan, suhu reaktor masih sangat tinggi karena sistem pendinginnya mati. Untuk mempercepat pendinginan, TEPCO (Tokyo Power Electric Co) yang mengoperasikan reaktor tersebut menggelontorkan air laut ke reaktor. Saat ini, upaya pendinginan masih terus dilakukan menggunakan air laut maupun menyemprotkan air langsung dari helikopter. 

Sumber disini Shared by Q Ingin Bisa

Tsunami Itu Datang Sebelum Sakura Mekar

Suhu dua derajat di bawah nol. Tanpa listrik, tanpa pemanas ruangan. Namun, Sekolah Menengah Atas Torio, Kesennuma, Prefektur Miyagi, Jepang, yang dijadikan barak pengungsian itu terasa hangat oleh kasih dan rasa hormat kepada kemanusiaan yang tak mengenal batas suku, bangsa, dan agama.
Di antara harapan untuk segera pulang ke Tanah Air, terasa betul bahwa 33 remaja putri asal Indonesia yang menjadi korban tsunami itu berat meninggalkan Kesennuma.

Demikian juga sebaliknya, orang-orang Jepang di pengungsian seperti tak rela melepas kepergian anak-anak Indonesia. Beberapa di antara mereka naik ke bus penjemput dan menyalami anak-anak itu hingga saat terakhir sebelum keberangkatan. Bahkan, sebelumnya, penanggung jawab pengungsian meminta kepergian itu ditunda hingga keesokan paginya.
Setelah bernegosiasi sekitar sejam, Kepala Atase Pendidikan Budaya Kedutaan Besar RI di Jepang Edison Munaf akhirnya berhasil mengevakuasi para korban malam itu juga ke Tokyo. Anak-anak ini adalah lulusan sejumlah sekolah menengah kejuruan di Indonesia yang tengah magang sekaligus bekerja di empat perusahaan pengolahan hasil laut di Kesennuma.

Sebelum bus pergi, Mikasa-san, salah seorang pengungsi, menyerahkan kantong plastik penuh berisi roti kepada anak-anak itu sebagai bekal perjalanan menuju Tokyo sejauh sekitar 330 km dari Kesennuma.
”Mereka selalu baik kepada kami. Bahkan, tetap baik saat bencana,” kata Marlina, remaja asal Brebes, Jawa Tengah, yang sudah 2,5 tahun tinggal dan bekerja di pabrik pengolahan telur ikan salmon di Kesennuma.
Menurut dia, orang-orang Jepang di Kesennuma sering menyambangi rumah kontrakan anak-anak Indonesia dan membagikan makan. ”Kami bukan siapa-siapa, tetapi mereka menerima kami seperti saudara, bukan hanya melihat kami sebagai pendatang,” katanya.
Bahkan, menurut rekan Marlina, Yulianti (19), asal Cirebon, pada hari pertama setelah gempa dan tsunami, ketika hanya tersisa sebuah jeruk di pengungsian, orang-orang Jepang itu membagi satu ruas jeruk untuk satu orang. ”Tak peduli asli Jepang atau tidak. Semua mendapat bagian,” kata Yulianti.
Karena itu, bagi Yulianti, bus jemputan itu terlalu cepat datangnya. ”Kami belum sempat berpamitan dengan mereka semua,” ucapnya.

Ketegaran yang menular
Kesennuma termasuk salah satu daerah yang terparah diamuk tsunami. Dari 75.000 warga, 20.000 orang di antaranya menjadi pengungsi. ”Banyak korban di sini. Yang hilang masih 1.500 orang,” kata Mikasa.
Selain rumah, pelabuhan dan pabrik-pabrik pengolahan hasil laut tempat magang ke-33 remaja putri asal Indonesia itu juga hancur. Perempuan Kesennuma itu mengisahkan bencana tersebut dengan tegar. Tak ada tangis ataupun keluh kesah. ”Semua cukup di sini. Ada air, ada makanan. Hanya listrik yang padam,” katanya.
Ketegaran itu menjalar pada remaja-remaja putri Indonesia. ”Saya belajar banyak dari mereka, seperti kerja keras, disiplin, dan tak banyak mengeluh,” kata Marlina.
Saat gempa mengguncang pada Jumat (11/3), Marlina dan kawan-kawannya tengah bekerja di pabrik sekitar 100 meter dari tepi laut. ”Lima menit setelah gempa, ada peringatan akan ada tsunami 6 meter,” kata Sofiah (21), asal Jepara, Jawa Tengah.

Segera para pekerja pabrik ini berlari ke arah bukit yang berada tepat di belakang pabrik. ”Saat baru datang di Kesennuma, kami diajari apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa dan tsunami,” katanya.
Dari atas bukit itu, dia melihat pabrik tempatnya bekerja hancur dihantam tsunami. Demikian juga rumah kontrakan mereka luluh lantak, menghanyutkan seluruh barang pribadi mereka. ”Kami beruntung di belakang pabrik ada bukit tinggi. Semua karyawan di pabrik selamat,” ujarnya.
Marlina mengisahkan bencana yang nyaris merenggut nyawanya itu dengan tenang. Demikian juga Sofiah, yang terdengar sangat tenang saat menelepon pacarnya untuk pertama kali setelah gempa dan mengabarkan bahwa dia serta teman-temannya selamat.
”Semua barang pemberian ’Aa’ hilang. Hanya yang tersisa di badan. Saya juga masih memakai seragam perusahaan dan sepatu bot,” kata Sofiah kepada keluarganya di seberang telepon.
”Jadi, jangan kaget kalau nanti pulang kami masih pakai sepatu bot dan seragam kerja. Kami juga bau ikan. Tetapi, yang terpenting kami semua di sini selamat,” tuturnya.

Namun, remaja-remaja ini sedikit resah dalam perjalanan di bus menuju Tokyo itu. Mereka mendiskusikan masa depan sekembali pulang ke Indonesia. ”Di Indonesia ada pekerjaan apa, ya? Kami tidak mau hanya menunggu datang orang ’membawa lemari’ (dilamar),” kata Irma (19), yang juga asal Jepara.
Yulianti menimpali, dia baru sembilan bulan, belum cukup mengirim uang ke rumahnya. ”Belum ada modal untuk buka usaha sendiri. Maunya balik kembali ke sini nanti,” ucapnya.
Apakah tidak takut terhadap gempa dan tsunami lagi? ”Urusan gempa dan tsunami wallahualam (saya serahkan kepada Tuhan). Di Indonesia juga sama saja, banyak bencana,” kata Yulianti.
Sakura di Kesennuma
Marlina, Sofiah, Yulianti, dan kawan-kawannya seharusnya menyelesaikan magang tiga tahun di Kesennuma. Marlina sedikit lebih beruntung karena telah menjalani 2,5 tahun di Kesennuma. Marlina dua kali melihat bunga sakura bermekaran. Banyak kawannya yang baru mengalami masa tinggal di Kesennuma dalam hitungan bulan dan itu yang membuat mereka sedikit ”iri” kepada Marlina.
Misalnya, Fida Aisyah (19) dan Irma (19), yang baru tinggal di Kesennuma sembilan bulan. Mereka termasuk yang menyesal karena belum pernah melihat bunga sakura bermekaran. ”Saya belum berfoto di bawah pohon sakura,” kata salah seorang di antara mereka.

Tahun ini, sakura belum lagi mekar di Kesennuma. Salju masih menyelimuti sebagian besar daratan Jepang bagian utara. Namun, sebentar lagi salju itu sepertinya akan meleleh. Setidaknya malam itu, kehangatan suasana telah melelehkan rasa dingin yang membekukan. Andai ”sakura” bisa bermekaran di Indonesia, tentu remaja-remaja putri itu tak akan jauh-jauh datang ke Kesennuma....

BANJIR BANDANG DI PAPUA

7 Oktober 2010

Assalamu'alaikum Wr.Wb salam Blogber....
Seiring dengan berputarnya roda kehidupan berjalan dan terus berjalan tiada henti, kejadian demi kejadian peristiwa, musibah tiada henti-hentinya mengingatkan kita semua kembali kepada Sang Kholik, apakah ini tanda2nya bumi sudah tua, apakah bumi sudah tidak nyaman dihuni, benarkah demikian,,,mari kita mendekatkan diri Kepada Sang Pencipta. Kejadian yang di alami oleh penduduk Papua tepatnya Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat yaitu banjir bandang yang banyak sekali menelan korban hingga sekarng ini korban jiwa yang sudah diketahui mencapai 97 orang dan 63 dinyatakan hilang, korban banjir bandang tersebut menghancurkan rumah-rumah dls. hancur rata dengan tanah. sungguh kejadian yang sangat tragis yang kita harus renugkan. marin kita sebagai bangsa indonesia memberikan bantuan kepada mereka2 yang membutuhkan, dan mari kita juga mendoakan semoga mereka yang ditinggalkan mendapat ketabahan dan kesabaran, semoga Allah meridloi amien.

Saya mengajak teman bloger semua berdoa untuk mereka semua, mari kita membantu mereka yang tertimpa bencana.

Salam Blogger Wassalam
 

© Copyright Q Ingin Bisa 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.